Saturday, March 30, 2013

Politik suka-suka


Stand Comedy di KOMPAS TV, adalah salah satu tontonan yang saya tunggu, Stand comedy competition, session ke 3 dari STV bandung. Minggu kemarin topicnya adalah IKLAN. Salah satu peserta mengangkat topic tentang “INDONESIA LALER CLUB” (Indonesia Lawyer club). Mungkin sama bagi orang –orang awam seperti saya, yang jika menyimak mereka berdebat begitu terpesona. Betapa lancar dan fasihnya mereka mengungkapkan fakta dan pendapat mereka tentang sebuah kasus. Terdakwa, saksi dan pelaku sama-sama jago biacara, membuat saya sangat kagum, tidak tahu lagi, mana terdakwa, mana saksi dan mana pelaku. Sepertinya kok sama-sama jujur dan benar, atau memang sama-sama tukang ngibul. Tapi lama-lama topiknya kok terasa basi, dan episodenya hampir mengalahkan sinetron tersanjung, ga ada ujungnya sampai beranak pinak. So salah satu candidat di kompetisi ini memang pas betul kalau forum talk show keroyokan ini, INDONESIA LAWYER CLUBS menjadi Indonesia LALER ( lalat) CLUB. Karena basi maka semakin banyak LALER yang bergabung.
Semua kasus di Indonesia yang pasti sangat membutuhkan HAKIM dengan kualitas SUPER, mungkin bisa jadi setaraf dengan WALI SONGO, PENDETA ataupun bahkan NABI, kebijaksanaanya memutuskan yang mana yang benar.

BABE CABITA, salah satu candidat mengusung topic IKLAN PILKADA. Yang di coleknya adalah Mr. LAMBAD (LIMBAD). Bayangkan cara berkampanye MR.LAMBAD ini di atas podium dengan mata melotot, mulut terkatup rapat, tangan terlipat di dada, dagu terngakat… dan hanya mengeluarkan geraman… HEMMM..HEMMM..HEEEMMMM.

Saya tambahkan di sini, mungkin calon BUPATI TUGEL ini bisa menjadi contoh bagi para calon yang akan mangajukan dirinya dalam PILKADA. Sosok LAMBAD dengan kekuatan super, tak banyak bicara namun actionnya SUKA-SUKA, Giginya sekokoh besi, kulitnya sekeras baja dan rambutnya sekuat beton, dengan semedi 40 hari 40 malam di puncak gunung semeru akan menjadikannya GATOT KACA. Tidak mempan pada santet dan iming-iming korupsi. Karena Gatot kaca adalah tokoh bijak yang sangat powerfull, hati, jiwa dan raganya. Pastinya akan sanggup mengayomi rakyat TUGEL bahkan calon yang berkualitas untuk di ususng menjadi calon PRESIDEN Indonesia tahun 2014. GEMAH RIPAH LOH JINAWI.

TAHU NGGA SIH, pada jaman rasulullah dulu, tidak ada seorang pun yang mau mengajukan/mencalonkan dirinya menjadi pemimpin pengganti rasulullah. Karena..sangaaat beban beban yang akan di pikulnya. Rejeki yang di dapat menjadi seorang khalifah tidak sebanding dengan beban mental dan fisik yang harus di pertanggung jawabkan pada rakyatnya.


MAKA, pilihlah pemimpin yang memiliki jiwa rendah hati yang kampanyenya tidak menonjolkan kelebihan dirinya sendiri dan menghabiskan dana kapanye hanya untuk mengkritik lawan atau kinerja pemimpin sebelumnya. Hati-hati dengan para calon yang suka menjadi kutu loncat, pondah pindah partai, mencari partai yang nyaman aman lan tentrem untuk kepentingan dirinya sendiri.

Tahun 2014 aja belum tapi berita di TV sudah marak banget berita saling menjatuhkan nama partai saingan. Saling berlomba mencari kesalahan, dan KPK jadi banyak PROJEK neh… JO LALI ANG PAU NYA yo PAK NE

Sahabat



Dalam 2 hari setelah tulisan aku mengenai bapak ada kejutan dari  sebuah komentar di grup SMP.  Bukan  komentarnya yang menarik perhatianku, tapi dari nama yang memberi koment. Nama yang telah lama ku cari, sejak awal awal saya mempunyai FB. LINDA KASEGER. Kami satu SMP tapi tidak kenal, menjadi sahabat ketika takdir menyatukan kita sekelas di SMA.  Sehari kemudian ada seorang  teman yang menandai 2 buah foto pada bekas teman kerjaku. Namanya pun adalah juga salah satu nama teman lama yang juga masuk dalam list the MOST WANTED ku. Temen seperjuangan ketika masih bekerja. Dian. Dian yang nama belakangnya kini sudah tercantum nama keluarga seorang Bule. Dian price, “Dian Harga”. Sejak lama ku dengar kabar bahwa dia menikah dengan seorang bule Ausi, tapi kami kehilangan kontak lamaaaa sekali. Terakhir kontak kontakan seingatku, sekitar tahun 1998. Terakhir  calling-callingan, saya ingat betul topik pembicaraan kami waktu itu tentang “Curahatan hati”.  Seperti cerita bersambung yang kudengarkan selama beberapa hari. Cara dan nadanya bercerita begitu menyentuh, sehingga dengan tekun aku mendengarkan, manggut-manggut serius  tanda mengerti, meski pastinya dia tidak melihat ekspresi ku sama sekali. Mendengarkan Dian bercerita dari awal sampai akhir, dan dengan gaya yang sok bijak, ku berikan nasihat-nasihat  lebayku padanya sambil berkata “ oya “ “ehemm” “terus..terus” “ehmm oya”. Hingga suatu hari dia berkata, 


“Sorry ya ndah, cerita gue kemarin-kemarin itu bohong “
Heeemmm jangan di tanya dongkolnya hati ini. Sepertinya tidak akan terbayar sampai dia membelikanku tiket PP Ausi + Uang saku. Ga deng Yan, aku orang yang baik hati dan pemaaf. Rajin menabung pula, hingga suatu saat mungkin akan bisa berkunjung ke Ausie, tapi jangan di tunggu kapan ya. TAPI SUWER dari hatiku yang paling dalam, CUCUR saat itu gue memang dongkol abis. Heemm… tapi jangan pikir orang yang gampang di kadalin bukan berarti dia bloon ya, tapi karena ikhlas itu sudah menjadi bagian dari imannya….
Dan satu nya lagi, yang bernama Linda Kaseger adalah  teman dekatku ketika sma.
Kami berteman baik selama 2 tahun. Selama kelas 2 dan 3, sekelas ketika penjurusan. Begitu kulihat namanya, langsung ku inbox… chat… Sejak pertama ku punya account FB, namanyalah yang termasuk paling ku cari.
“Pa kabar Lin. Awakmu jek urip ta (Apa kabar Lin, masih hidup to) ?”
“Sek urip kok ndah”
Karena waktu menjelang maghrib dan di sisa waktu yang ada kami bertukar no HP.
“Endah !”
“Linda yo “
“Piye kabare ndah “
“Mbiyen Bodo saiki kere “
Ada suara terkikik di ujung sana, membuatku yakin bahwa dia adalah temanku yang ku kenal 25 tahun yang lalu. Waktu yang terbentang sekian lama seolah terlipat rapi tanpa tahu seberapa panjangnya ketika terbentang. Hanya sisi kanan dan kiri yang telihat. Menempel tak berbatas. Tak ada yang berubah dari suaranya. Semoga tak ada yang berubah dari semua yang baik dari nya.  Mimpiku 2 kali tentang dia  sekitar 3 tahun yang lalu, membuat ku khawatir. Tampak terlihat begitu cantik dan hanya diam.
“Sekitar 3 tahun yang lalu, aku lagi susah ndah. Di PHK, ngga nduwe gawean “
Alhamdulillah, tak pikir pertanda buruk, awakmu wes…. Kita sekarang sudah sama-sama sudah tercantum di waiting list pemakaman ya. Sing penting sekarang kita berdua kabarnya apik-apik wae.
Sebuah sms pada malam ketika masih saling bertukar kabar, dia bertanya
“Piye sakit alergi mu”
Bodo dan selalu flu itulah yang mungkin di ingat oleh sebagian besar teman-teman saya saat itu. Kere… sebuah kiasan pada seorang teman dekat untuk mengatakan bahwa aku cuma orang biasa-biasa saja. tidak berlebih.
Bodo, yeah, ku katakan itu bukan untuk merendahkan diri, tapi aku merasa memang begitulah adanya ketika itu. Apalagi ketika kelas tiga Sma, saat ketika parah-parahnya  ketergantungku pada obat alergi sebenarnya.  Obat alergi itu seperti narkoba, ketika kita tidak punya daya tahan tubuh yang baik maka kita tidak akan bisa menjalani aktifitas dengan nyaman tanpa bantuan obat. Meski tidak menyebabkan ketagihan namun konsumsi yang tidak terkontrol pasti akan menjadikannya duri dalam daging. Racun.
Saya sendiri tidak terlalu tahu alergen apa yang harus ku hindari. Apakah masalah cuaca, debu, makanan ataukah sesuatu? Yang jelas hampir separuh dari usia yang saya punya, adalah untuk mencari tahu bagaimana cara mencegah penyakit ini agar tidak kumat dan cara mengatasinya tanpa mengkomsumsi obat-obatan.  Pengalaman saya adalah riset dengan saya sendiri sebagai kelinci percobaannya.  Dengan mengkomsumsi 2 tablet ctm dan 2 tablet napacin sudah terdengar mengerikan bagi orang lain tapi sangat membantu bagi saya, namun sama efeknya jika pada ketergantunan obat. Dari mulai megkonsumsi separo dosisnya , kemudian 1 , 2 karena di rasa tak ada efek kegunaannya maka otomatis dosis akan mengikuti kebutuhan . Orang tua yang tinggal di lain kota dan tak ada keinginan untuk pergi ke dokter karena memang saya pikir, penyakit ini hanya penyakit ece2. Mungkin sama bagi para pecandu narkoba, tidak penting apa pengaruh buruk dari obat-obatan itu, efek yang membuat nyaman lah yang di cari. Tidak sesak napas dan bisa tidur enak.
Perjalanan ku bersama penyakit ini membuatku mengejar TUHAN. Saya mencari pertanggung jawabanNYA akan ketidak adilan ini. Hampir setiap hari flu, sesak napas, membuat wajah tidak segar dan kurus kering. Situasi yang membuat rasa percaya diri nyaris tak ada. Pencarian makna hidup dengan keadaan yang lemah semakin lama justru semakin mengantar saya pada NYA. Sehingga suatu hari ada mimpi  yang tak terlupakan. Ada sebuah kata yang tak pernah akan lupa termakan usia. Mimpi di tengah-tengah keputus asaan dan ikhtiar yang aku upayakan.
“La haula wala Quawata Ilabillah”. Berkali-kali kata itu seolah melintas. Tiada daya dan upaya yang berhasil kecuali karena ALLAH yang menginginkan itu terjadi. Sariawan di leher yang hampir berjumlah 40, 2 kali timbul dengan di cauter tak menjadikannya hilang selamanya.  Meresapi makna Lahaula walla Quawata lah yang menghapus semua penderitaan. Hilang, lenyap tanpa obat sedkitpun. Alternative ataupun medis. Alergi ini sebenarnya  tidak ada obatnya. Jadi selain menghindar dari allergen factor  mensyukuri, ikhlas pada keadaan adalah daya tahan tubuh yang paling efektif. Daya tahan tubuh yang paling manjur, tiada bandingannya. Obat dari penyakit apapun tidak akan ada khasiatnya ketika daya tahan tubuh kita buruk. Dan Iklhas + selalu bersyukur adalah salah satu factor penting dalam pertahanan tubuh. Aku jujur mengatakan bodo, karena memang demikian keadaanya.  nilai Nem saya Ipa benar-benar di bawah A, Alakadarnya.

“Biji ne sopo ki, siji “ kata Mamanya Linda saat memfoto copy lembaran nilai Nem IPA ku, saat ku foto kopi hasil-hasil belajar selama 3 tahun untuk di legalisir. Linda punya toko sekaligus tempat foto copyan.  Membuat orang lain mengerti sebab  dan alasan-alasan kegagalan kita adalah hanya membuat kita semakin tampak seperti seorang pecundang.  Maka aku lebih suka menyendiri dan diam. Tak ku katakan bahwa tak ada satupun pelajaran yang bisa masuk ke otak ketika kita dalam keaadan teller. Yang ada dalam otakku dan ku katakan pada Linda, entah dia ingat atau tidak.
“Aku jenuh sekolah, jenuh belajar “
“Ngombe o napacin 2 karo sprit ndah. Mantabs” itu sarannya…dengan senyum yang  sedikit khawatir
Ketika ujian PSPB (Pendidikan sejarah perjuangan bangsa) yang hafalannya Masya Allah…banyaknya. Duduk di pinggir kelas tanpa tahu mana yang harus di hafalkan.
“Ki, salembar awakmu, aku sak lembar (satu lembar kamu, satu lembar aku) ” dia menyobek 2 lembar halaman dari buku diktat PSPB.
“Bar iki ra kanggo buku ne (selesai ini buku ini tidak berguna) ” begitu katanya. Kenyataannya  sebelum dan setelahnya memang kurang berguna, karena tidak ada satupun jawaban yang bisa di cari dari 2 lembar kertas yang dia sobek itu.
Tidak ada yang terlalu istimewa pada persahabatan kami. Tidak ada curhat-cuhatan masalah kegalauan hati, masalah pacar, atau doi yang di taksir, karena memang kami tidak ada yang punya pacar, gebetan yang membuat kami galau. Bahkan kami pun tak punya foto bersama, kenapa ya? Kok ga kepikiran? Karena kami memang tak punya Kodak dan tidak ..yah tapi kami tak merasa remaja kuper. Biasa aja. Santai, kami punya style sendiri. Hemm. Santai.
selain aku dan Linda ada satu teman lagi yang selalu bersama. Dian Nurheni, belum ku temukan jejaknya hingga saat ini. Kami mungkin sahabat yang unik. Aku adalah muslim, Linda advent, keturunan chinese dan Dian adalah katholik. Tapi ketika kuliah, dian sudah menjadi mualaf.  Aku pun tak pernah menolak ketika Dian yang beberapa kali pindah kost menitipkan Alkitabnya padaku.Ku simpan dengan baik.   Ketika kami berkumpul pun perbedaan yang ada tidak pernah menjadi topik pembicaraan kami. Kami hanya orang-orang yang mencoba menikmati hidup sederhana yang kami punya dengan cara yang ringan pula.
Di saat istirahat kami duduk di pinggir kelas bercerita tentang ini dan itu. Bercerita tentang kekoyolan-kekonyolan yang ada di sekitar. Berbicara tentang guru-guru, gossip tentang siswa lain, pelajaran yang membosankan, suasana yang tidak menarik, dan bikin bĂȘte ataupun bahkan yang membuat kami sumringah. Becerita tentang pembantu baru ibu ku bernama Rikemlah yang paling ku ingat. Rikem adalah namanya  selagi masih di desa dan Parti ketika sudah di Jakarta. Rikem berasal dari pelosok madiun, entah belahan desa yang mana, saya lupa lagi. Ynag jelas jauuuuhhh di pelosok. Berpostur tinggi besar, berkulit legam dan biasa kumpul kebo di kampungnya. Miris mengatakan hal ini, karena ketika saya ikut mengantarnya pulang kampung, benar apa yang di katakannya, bahwa dia tinggal bersama kebonya, bersama.  Hanya tersekat bilik tipis, antara rumah tempat tinggalnya bersama keluarga dengan bilik kerbaunya. Sosoknya yang polos membawa beberapa kisah ceria dalam kejenuhanku.
Bercerita tentang Rikem yang terpana ketika melihat adik ku yang saat itu masih sma membersihkan wajahnya dengan pembersih viva. Milk dan toniknya. Hingga suatu hari Rikem yang tidak bisa berbahasa Indonesia pergi ke warung, berniat membeli kosmetik seperti yang di gunakan adik ku.
“Tumbassss !”
“Tumbassss !”
Pemilik warung yang orang betawi segera keluar.
“Mau beli apa mba ?” tanyanya meski dia sendiri tidak tahu apa itu tumbas. (Tumbas = beli, bahasa jawa)
“Tumbas wedhak jemek ?” (beli bedak lembek)
Si pemilik warung bingung, tapi berlapang dada pada pelanggan. Pelanggan itu raje jeh…, mengambilkan segera barang yang di tunjuk oleh Rikem.
“Iku Io sing kuwi. Sing warnane abang ae,” (yang warnanya nya merah saja). Pembersih wajah merk Viva yang berwarna putih sudah bisa membuat kulit wajah adik saya mulus (waktu itu lo ), kalau yang warna merah pasti lebih bagus, begitu mungkin pikiran rikem saat memilihnya. Padahal yang berwarna merah itu kan hand body, lotion untuk pelembab tubuh bukan wajah!. Alhasil beberapa hari kemudian, wajahnya mulai di tumbuhi jerawat, dan tampak terlihat sangat lengket….
Pengaruh efek dari gaya hidup orang kota membuat Rikem mulai mengikuti fashion. Sholat tarawih dari dulu sampai sekarang mungkin masih mempunyai pengaruh yang kuat bagi sebagian remaja puber untuk menarik perhatian lawan jenis,termasuk mba Rikem ini. Mushola yang terletak persis di sebelah rumah, pada saat tarawih lumayan banyak jamaahnya yang datang dari dalam komplek maupun lingkungan sekitar. Mushola meski kecil,  adalah tempat di mana tidak terlihat perbedaan status social. Tukang becak, tukang sayur, kepala bagian…sama-sama berkumpul dan sholat di tempat yang sama.
Wajah yang sudah di olesi viva hand body warna merah, dan bedak di lengkapi dengan lipstik warna merah cerah selain untuk  bibir,juga di pakai sebagai perona pipi dan eye shadow. Seandainya dia tak perlu berwudhu lagi tengah-tengah tarawih, mungkin tidak terlalu menghebohkan. Tetapi ada panggilan alam yang membuat nya berwudhu kembali harus terbasuh air membuat wajahnya tampak sangat merona. MERAH. Luntur..riasan merah di wajahnya bersatu padu  di seluruh bagian. Tidak di sadarinya tetapi membuat para jamaah lain yang sadar perbedaan penampilannya “sebelum” dan “sesudah”  berwudhu itu, membuat mereka tidak konsentrasi untuk khusuk dalam sholatnya.
Rikem sebenarnya masih kategori gadis remaja. Baru berusia 16 tahunan dan adik saya yang kurang lebih berusia sama, menjadi tolok ukurnya untuk gaya orang kota.
Mulai dari fashionnya, style nya sebagai remaja kota di ikutinya.
Pagar rumah kami di komplek,  tidak terlalu tinggi. Hanya sedikit lebih tinggi dari pinggang orang dewasa. Gaya remaja memang selalu ingin serba praktis dan cepat membuat  adik sayalebih memilih melompat pagar dari pada membuka pintunya.  Sayangnya, meski Rikem yang juga masih remaja, tapi dengan posturnya yang tampak lebih keibuan dari pada remaja, seringkali mengikuti polah adik saya ini.lebih suka melompat pagar dari pada membuka pintu pagarnya.  Dengan tulisan ini setidaknya adik saya sadar bahwa dulu dia sudah punya fans fanatik. Harus bersyukur.
“Saya tidak mau beli celana panjang bu,” katanya pada ibuku saat mengantar Rikem membeli celana panjang untuk baju lebarannya di pasar.
 “Kalau pulang dari kota dan memakai celana panjang itu tanda bekerja sebagai  perempuan “nakal” di kota” katanya lagi.
Oranye, merah cabai itu warna favoritenya. Tidak membeli celana panjang tetapi membeli rok sepan. Badannya yang biasanya maskulin, tampak feminism dengan baju yang memuat nya tambah ber”bobot” dan padat.
Sedkit mengenang lain kisah di lain jalur,ngomong-ngomong soal pulang kampung aku ingat ada temen lelaki yang memang suka iseng di kantor, berkomentar pada salah satu manager perempuan yang masih single saat itu, yang setelah liburan lebaran masuk kantor dengan rambut baru ke kantor. Di kriting.
“ Biasanya nih…kalau abis lebaran rambutnya di kriting, itu pembantu rimah tangga”
Keesokan harinya rambut manager yang di maksud sudah lurus lagi…hahahaha.
Semua kisah persahabatan kami tidak pernah terekam dalam selembar foto pun. Tapi ingatan tentang kebersamaan itu masih terekam jelas dalam ingatanku. Terkhir saat kelas 3, ku ingat betul, kelasku  juara relly sepeda. Memakai kaos Polo dan topi ala jepang. Juara kedua, hanya karena kurang seragam kostumnya. Lumayan, tapi membuat kami tidak nyaman untuk berjalan  setelah itu, karena kami tidak terbiasa memakai sepeda balap, bukan sepeda jengki yang biasa kami gunakan untuk sekolah sehari-hari.
Satu persatu kenangan lucu ketika sekolah membuat ku bertambah kangen. Ingin sekali bertemu. Tapi reuni 2 tahun lalu mereka tidak ada. Kangen saling mengingat masa lalu.
“Lek aku ngentut, melu tengok kanan kiri. Ben ra kethok lek awakmu sing ngentut “ modus ngeles.com Itu kata Linda saat jenuh pada forum diskusi pelajaran sejarah. Forum yang membuat aku ngga habis pikir ya, buat apa kita berdebat atau berdiskusi tentang sejarah yang saat itu kita sama-sama tidak tahu faktanya. Satu-satunya fakta yang ada, ya hanya yang tertulis di buku. Dan itu adalah satu-satunya buku diktat pegangan para siswa. Sing di debat opone..lah wong faktanya yang kita tahu sama.Tidak ada survey atau makalah yang harus di uji.  Duduk manis di pinggir dengan terkantuk-kantuk menahan mules.
Mungkin ketika Sma kami sama sekali bukan murid yang tenar. Dan tak penting itu buat kami. Selembar surat kaleng mengkritik ketegasan pak Dirman kepala sekolah Sma kami layangkan. Iseng. Ketika banyak kasus colut dan pelajaran Di JOK KE, di majukan membuat kami galau. Kedisiplinan saat di  mp buyar. Kenangan betapa kami memilih menjadi seorang pengecut daripada masuk forum OSIS untuk menyampaikan pendapat. Yaaah..karena itu adalah tanda kami masih exist aja kali ya.
Meski tak merasa ada cowok yang naksir bukan berarti kami hilang semangat. Kabar mengenai kakaknya Dian yang ganteng ,yang sedang liburan kuliah membuat kami iseng main ke rumahnya. Di Geneng Ngawi. Pathok tanda masuk di setiap batas desa di sana yang tampak sama membuat kami salah turun. Jika hanya nama Dian yang ku tahu mungkin kami akan memutuskan untuk lebih baik kembali lagi. Yang penting kami tahu siapa bapaknya. Mantan Lurah Geneng, meski periode kapan kami tidak tahu pasti, hanya berharap bahwa bapak Sutrisno ini termasuk lurah beken.
“Pak numpang  tanya, rumah bapak Sutrisno, bekas lurah geneng di mana ya?” Untung bapak petani itu tahu, hanya sayangnya 1 kilometernya orang desa bisa jadi 5 kilometernya orang kota. Setelah melintasi beberapa sawah kering dan kampung akhirnya ketemu juga. Wwuiiihhh.
Segelas es degan membuat kami merasa fresh kembali. Tak ada terlihat sosok ganteng yang kita incar lalu lalang mencari perhatian kami. Yang ada hanya keponakan Dian sekitar kelas 3 atau 4 SD yang justru heboh mencari perhatian kami. Gadis-gadis katrok dari kota. Jungkir balik salto….membuat kami bengong dan terpana. Ngga tahu harus berkata apa. Sama anak kecil aja kita speechless apa lagi sama yang  “beneran”.  Ngomong-ngomong gimana kabarnya anak itu ya lin? Apa mungkin masih ada kemungkinan dia cari perhatian emak-emak seperti kita ini jika ada waktu untuk bertemu kembali??? Waktu masih kecil tu anak, wajahnya oke lo. Mungkin sekarang sudah jadi PILOT? Where are You Dian, I miss you so much.
Ku tak punya cerita cinta, tak punya cerita yang luar biasa untuk di ingat. Hanya beberapa cerita konyol yang  tak cukup ku tulis dalam beberapa lembar kertas.
Kini ketika tak ada teman baik untuk berbagi cerita, ketika kesedihan dan kemarahan yang sudah tak terbendung, aku hanya berusaha menyingkir untuk tidak berinteraksi dengan orang lain, dan besimpuh berlama-lama selesai sholat. Memutar butiran tasbih bukan berarti saya ingin menjadi alim ulama. Merasakan rasa Iklhas dan bersyukur apapun yang terjadi ternyata factor yang paling penting dalam menjada daya tahan tubuh kita. Bahwa tidak ada yang mampu menolong kita kecuali usaha kita sendiri untuk keluar dari masalah dan KUN FA YA KUN NYA adalah jawaban dari semua pertanyaan.
Lin, tulisanmu opo jek elek?



Monday, March 4, 2013

BAPAK IN MEMORIAM



Terima kasih pada teman-teman semua yang telah mengucapkan dan memberi doa bagi almarhum bapak saya. Tulisan ini bukan untuk maksud apa-apa. Saya hanya ingin berbagi kenangan tentang bapak….

Hari itu, Jumat tanggal 1 Maret jam 6 pagi, saya sedang ada di bengkel tambal ban motor. Ketika  di keluarkan dari rumah ternyata ban motor saya bocor. Motor diantar ke bengkel oleh suami, dan selanjutnya saya yang menunggu dan mengambil nya,  untuk mengantar anak saya yang no 1 dan no 3 pergi ke sekolah.

“Bu tadi ada Telpon dari Bi Popong, katanya bapak sakitnya parah (Saudara misan bapak yang di nikahi setelah ibu meniggal dunia) “ kata anak saya ketika saya pulang dari bengkel. Hp saya memang saya tinggal di rumah saat itu.

Langsung saya telpon untuk memastikannya. Nada Khawatir dan tangisan menceritakan keadaan bapak dari suara ibu tiri di sebrang sana. Saya langsung memutuskan untuk membeli tiket travel ke Jakarta. Beberapa menit kemudian adik saya telpon yang mengatakan bapak sudah tidak ada. Tanpa pikir panjang lagi, saya kembali ke sekolah,  menjemput anak-anak, satu persatu di 3 tempat yang berbeda. Jam 10 saya berangkat, tepat azan saya sampai. Dan jenazah bapak sudah ada di mesjid.  Tapi Alhamdulillah sebelum jenazah di turunkan ke liang kubur, kami masih di beri kesempatan untuk melihatnya. Terlihat bersih, segar, tidak tampak pucat seperti sedang terlelap tidur.

Bapak saya orang yang sangat bersahaja, sederhana dan uniq. Kutu buku, tidak fashion, tidak trendi. Kumisnya hanya beberapa lembar, seperti kumis tukul ketika muda. Tidak pernah mau ke Mall seumur hidupnya kecuali di ajak ke toko buku atau makan. Tidak suka lawakan ala OVJ, Tukul, ataupun yang sejenisnya. Berisik kata belaiu. Hanya film Mr. Bean yang membuatnya tertawa. Punya prinsip yang sangat kuat dan sangat idealis.  Pemikirannya yang kuno seringkali bentrok dengan perkembangan jaman. Pendiam, tidak banyak bicara, lebih suka sendiri dan asyik dengan mainannya. Ngoprek mobil tuanya, pergi ke lagit-langit rumah seharian, membersihkan rayap atau membuat kerajinan ini dan itu. Sangat kreatif. Meja belajar, lampu, gantungan baju dan banyak lagi perkakas yang semua di buat sendiri oleh nya di waktu liburnya. 

Saya ingat suatu hari ibu saya mengingatkan bapak untuk sedikit mengembangkan senyum pada ibu-ibu yang berkumpul di sekeliling tukang sayur, setiap paginya, yang selalu di lewati bapak ketika hendak berangkat ke kantor.
“Bapak sudah tersenyum kok, tapi kok malah seperti cekikikan sih” kata bapak waktu itu. Usut punya usut ternyata yang berkumpul adalah para pembantu rumah tangga hari itu. Bukan ibu-ibu kolega ibuku ngerumpi. Yah, Bapak tidak terlalu hafal wajah para tetangganya.

Meski tidak terlalu gaul dengan tetangga dan lingkungan tapi silaturahmi dengan kerabat dan keluarga bagian dari keutamaannya. Ketika masih muda lebih suka tidur di kursi di depan TV, dengan berselimut Koran dari pada di kamar.  Sampai di akhir hayatnya berita-berita dari TVRI masih menjadi acara favoritnya.

Pensiun terakhir dari pegawai negri Ditjend pajak dengan pangkat 4D, setingkat lebih rendah dari jenjang tertinggi karir pegawai negri.  Jabatan terakhir adalah kepala kantor penyuluhan pajak di cibinong. Yang ketika ada pabrik yang di demo para buruhnya karena Pph 21.  Ketika ketentuan tentang pemotongan pajak penghasilan di sosialisikan, bapak lah yang menjadi tameng untuk berbicara di ramainya demo para buruh, sementara bos-bosnya bersembunyi di belakang. Dan saat pensiun bapak hanya punya mobil hijet 1000 tahun 1982, yang sampai saat ini masih terpakir di rumah saya. Meski tua mesinnya masih mulus dan halus, masih saya rawat meski tidak saya pakai, karena masalah rem.  Kaca samping kanan retak, dan saya tempel dengan lakban karena ketika mundur sedikit menyenggol tembok pagar.   Dan karena mobil hijet di titipkan pada saya dia membeli lagi  satu mobil Jimni tua yang jika di operasikan sering loncat-loncat jalannya. Tapi semua adalah mobil kesayangan bapak, yang selalu di rawat dengan penuh rasa sayang. Berbulan-bulan ketika saya minta di ajari menyetir mobil beliau selalu menekankan saya bahwa sebelum mengoperasikan mobil saya harus rajin me lap-mobil dulu, mengatahui cara mengganti ban dulu, tahu mesin dulu, hingga sekarang saya hanya bisa menyetir maju mundur di lapangan kosong saja.

Ketika Bapak pension kami sekeluarga sibuk keliling Jakarta mencari rumah murah, karena bapak tidak punya rumah. Waktu itu Kami selalu tinggal di komplek dinas yang sederhana. Tak ada keinginan bapak untuk meng-Hak rumah dinas, seperti banyak tetangga di sana yang betah tinggal di sana hingga ke anak cucu. Tapi Alhamdulillah selalu ada jalan bagi rejeki untuk masuk.

Mungkin karena keluguan, idealisme dan kejujurannya membuat beliau termasuk orang yang di tidak sukai dan popular di kantor.  Pola pikirnya yang lempeng seperti besi dan kejujurannya membuatnya kadang mungkin tampak meyebalkan bagi sebagian teman-temannya.

“ Ndah di kantor bapak ada penerimaan pegawai baru, mana lamaran kamu, bapak bawa”

Lamaran yang ku pikir akan di titipkan pada seseorang yang “besar” ternyata di cemplungkan bersama ribuan surat lamaran lainnya dari seluruh Indonesia.

Idelisme dan prinsipnya yang kuat tentang pernyataannya “TIDAK” nya kadang membuat kami gregetan, tapi jika ada kebenaran dalam “BENAR” nya kami yakini, beliau selau welcome.  Buku-buku peninggalannya tentang banyak hal adalah salah satu yang paling berharga dari beliau. Pola pikir, ketekunan, kejujuran dan idealisme nya mendidik saya, adik dan kakak untuk mengerti untuk apa kita hidup sebenarnya.

Seminggu sebelum beliau meninggal, entah ada hubungannya atau tidak, tiba-tiba saya malaaaaassss sekali membuka internet. Malas sekali bercanda, malas beekatifitas kecuali mengerjakan kewajiban-kewajiban di rumah. Ingin sendiri dan berlama-lama duduk selesai sholat.

Rumah bapak kini sepi, tidak ada lagi sms seorang kakek tua yang menanyakan kabar cucu dan anak-anaknya. Saya yang tinggal di bandung tidak punya banyak waktu kosong untuk sering-sering menjenguknya. Biasanya hari minggu pagi saya datang ke jakarta, sore sudah pulang lagi ke bandung. Hanya untuk menggaruk-garuk punggungnya, memijiat, sambil mengobrol tentang banyak hal, mulai dari masakan hingga fenomena UFO. Kenangan menunggunya cuci darah selama 4 jam hingga saya ketiduran dan mendengkur di rumah sakit, tidak akan saya lupakan. Saya tidak merasa sedih, tapi ada rasa kehilangan, menyadari bahwa rumah ini terasa tidak lagi sama. Sepi dan lengang.  Bapak hanya pergi duluan ke tempat dimana saya nanti juga akan menyusul kesana. Rumah yang sementara ini hanya di tempati oleh Ibu tiri yang soleh, yang telah iklhas menghabiskan waktu menemani sisa waktu bapak untuk merawatnya. Saudara perempuan bapak se-uyut, “Misan” bapak yang suaminya telah meninggal, anak satu-satunya telah meninggal, mantunya telah meninggal pula, dengan 1 cucu yatim piatu sejak usia 9 tahun. Perempuan yang pernah membantu mengasuh kami, anak-anak bapak ketika kami masih kecil dulu.


Bapak yang rela memberi kursus akuntansi gratis, tanpa pusing dengan “nice say goodbye” tanpa kabar setelah mereka berhasil dan sukses.  Pendapatnya bahwa menilai  kesenangan dan kenikmatan hidup, bukanlah materi ukurannya, dan beribadah adalah harga mati baginya. Tidak ada nasihat-nasihat yang di katakan denga gaya orang-orang  bijak seperti yang di tayangkan di TV-TV. Baginya hidup ini hanya ibadah, hanya contoh-contoh dari kehidupannya sehari-hari lah nasihat yang  dia berikan buat kami.

Hanya keluarga dan kerabat yang dari dulu ku kenal baik yang datang melayat.  Ketaatannya beribadah, yang tak putus shalat tahajud dan mengaji, terutama ketika rasa sakit mendera… membuat jenazah di shalati penuh di masjid. Semoga amal ibadah bapak di terima di sisiNYA.

Monday, February 18, 2013

Islam tidak pernah menindas perempuan

Islam di anggap menindas kaum perempuannya oleh dunia, khususnya bangsa Eropa dan Amerika, yang sebenarnya pada prakteknya peraturan mereka sering mengkhianati peraturan dan pengakuan kesetaraan terhadap perempuan warganya. Meski Bangladesh, Pakistan maupun Indonesia pernah memiliki pemimpin negara seorang wanita tetapi tetap tidak mengubah kesan-kesan mereka mengenai kaum perempuan islam yang tertindas.

Saya menemukan sebuah buku karangan Abu ‘Abdurahman As-sulami berjudul “Sufi-sufi Wanita”, yang dikarang sekitar bulan Shafar 474, atau tanggal 17 Juli 1081. Jadi buku ini dikarang sekitar 1000 tahun yang lalu. Dalam buku ini berisi tentang kisah 82 orang wanita yang mengabdikan dirinya hanya untuk Tuhannya, yang mana tingkat kecerdasan dan kebijakan mereka sepadan dengan yang dimiliki oleh para sufi pria….dan mereka sangat di akui keberadaanya pada saat itu. 1000 tahun yang lalu. Ketataatan dan kecintaan mereka pada Allah melebihi segalanya. Mereka yang tertulis dalam buku ini adalah datang dari berbagai kalangan. Mulai istri dari sahabat nabi, putri bangsawan kaya dan juga seorang budak/pelayan. 1000 tahun yang lalu memang tidak ada tolok ukur untuk menilai kedudukan mereka di masayarakat. Kepandaian, kiprah atau kontribusinya kepada mayarakat umum hanya di lihat dari sebuah ketaqwaan. Kedudukan mereka ditandai dari ilmu agamanya. Mereka adalah para ahli tasawuf, ahli makrifat. Seorang sufi bernama Fakhrawaih bint ‘Ali. Beliau adalah istri dari Amr ibn Nujaid (kakek dari As-sulami, pengarang buku ini). Suami nya berkata “Apa yang kuperoleh dari pergaulanku dengan istriku Fakhrawaih tidaklah kurang dari apa yang kuperolah dari pergaulanku dengan Abu ‘ Ustman- seorang guru sufi. Suatu hari Fakhrawaih berkata kepada Abu ‘Ali ats-Tsaqafi ( seorang guru fiqih dan sufi) : Apanila seorang berkata dengan ilmu, maka dia menjadikan hati dan jiwanya nyaman. Kemudian dia membesarkan dirinya karena keutamaan pembicaraannya. Tetapi apabila dia mempraktekan ilmunya, maka nafs dan hatinya akan menjadi lelah, dan meremehkan dirinya sendiri karena dia sadar tidak adanya keihlasan dalam perilakunya. Abu Ali menagis dan berkata :” Aku akan mengatakan apa yang di katakan Khalifah Umar ibn al-Khattab “ Wanita ini lebih ungul dalam pemahamannya”. Tidak hanya kebijaksanaan dan pemahaman nya mereka terhapa islam yang di akui tetapi dalam kedudukan mereka dalam pendidikan mereka pun di beri tempat terhormat. Hukaymah dari Damaskus, dia adalah bangsawan syiria. Beliau adalah seorang guru yang mana dalam penuturan buku ini kata ustadz bersifat maskulin bukan feminin, artinya beliau telah si akui sederajat dengan kaum sufi laki-laki pada saat itu. 



Seorang sufi bernama Sya wa’nah. Dengan suaranya yang indah dan merdu dia memberi kuliah dihadiri oleh para Zahid dan para ahli ibadah. Ternyata 1000 tahun yang lalu para perempuan sudah terdengar ‘gaung’nya. Emansipasai wanita bukan berarti juga perempuan ingin minta disejajarkan dengan laki-laki, tapi dia hanya ingin dimengerti bahwa seorang perempuan juga terlahir dengan di karuniai berbagai kelebihan.

tidak ada judul

Kadang kesibukan kita mengejar mimpi membutakan kita pada keikhlasan, menjauhkan kita pada rasa syukur. Nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? (Surah Ar-rahman)
Bijaksana melihat keadaan ketika mimpi yang kita kejar tak kunjung mendekat, karena bisa jadi itulah yang terbaik untuk kita. Kelelahan dan kesedihan yang muncul saat perjuangan menggapainya, akan membuat kita mengabaikan banyak nikmat yang datang, dan masalah yang datang silih berganti membuat kita semakin terpuruk
Seperti jamur yang subur tumbuh di musim hujan, akan mendatang kan nikmat dan rejeki bagi yang menunggunya, tapi ada kalanya jamur itu adalah racun yang mematikan
Penantian tidak selalu mendatangkan keindahan yang “pasti”, tapi bersabar mendatangkan kepastian yang indah

in valentine day, 14 /2/2012

Kemarin pagi saya mendapat sms yang mengatakan bahwa seorang tetangga telah meninggal dunia. Tentu saja saya kaget, meski sudah pindah dari komplek beberapa bulan yang lalu tapi kami telah bertangga selama lebih dari 10 tahun. Saya kenal baik dengan, dan selalu tampak sangat sehat. Kabarnya meninggal karena jatuh dari lantai 2 ketika menjemur handuk.

Pagi itu setelah mengantar anak sekolah saya bermaksud melayat dengan seorang teman, tapi sebelum niat itu kesampaian, ternyata ada kabar bahwa beliau belum meninggal tapi masih dalam keadaan koma di rumah sakit. Akhirnya jam 10 saya melayat ke rumah sakit. Masih di ICU. Menurut keterangan keluarganya, sesuai dengan apa kata dokter, sebenarnya sudah di nyatakan meninggal, tapi dengan sebuah alat, mungkin alat pacu jantung? Jantungnya masih bisa berdetak.
Saya sentuh kakinya, dingin sekali, tetapi tangannya masih terasa hangat. Dadanya masih terlihat gerakan turun naiknya, apa mungkin itu karena bantuan alat yang terpasang ? Akan di lepas ketika keluarganya dari surabaya sudah datang dan memutuskan apa tindakan yang terbaik bagi nya.

Selesai sholat maghrib, ada pengumuman di mesjid yang menyatakan bahwa beliau telah meninggal. Maka janjianlah lagi saya dengan teman untuk melayat keesokan paginya. Hari itu teman saya yang janjian pergi melayat bersama pun telah minta ijin untuk datang terlambat ke sekolah untuk mengajar.
Ketika motor baru keluar dari rumah, saya berpapasan dengan tetangga yang lain, yang saya ajak sekalian melayat bersama.

“Eh..ngapain, orang belum meninggal kok ,” katanya

Setelah bengong sebentar spontan saya tertawa….. dan mengabarkan pada teman saya bahwa hari ini ngga jadi lagi melayatnya, meninggalnya ngga jadi lagi. Bukannya tidak sedih..tapi spontanitas saja… tertawa.

Dan jam 10 pagi, ada sms lagi, kali ini benar-benar di nyatakan meninggal. Dan jenazah sudah ada di rumah.

Almarhum adalah seorang ibu yang baik, baru berusia 40 tahun. Sangat telaten pada anak-anaknya. Beliau menikah ketika usia nya masih sangat muda, dengan seorang duda cerai, dengan 6 orang anak laki-laki yang masih kecil. Tidak ada satupun yang ikut dengan ibunya, semua di boyong oleh bapaknya dan menjadi tanggung jawab sang ibu muda. Beliau sendiri di karuniai 3 orang anak laki-laki dan paling kecil anak perempuan 2 tahun. Anak yang hadir dengan kejutan. Pasalnya sang ibu hamil ketika sudah ikutan program steril dari desa. Program Steril missal. Maka ketika terlihat perutnya membesar 4 bulan baru di sadari ada janin di dalamnya. Anugrah sang Ilahi.
Cerita di balik tidak simpang siurnya berita meninggalnya ternyata karena anak pertamanya semalam belum ikhlas untuk melepas alat bantu yang terpasang di badan ibunya. Sementara pengurus mesjid sudah menyiapkan segala sesuatu untuk jenazah. Cinta seorang anak yang tidak siap di tinggal tiba-tiba, dan teman saya ini setelah koma sehari (sejak sabtu pagi), hari minggu tersadar beberapa detik hanya untuk mengucapkan, “Ulfa sudah makan belum” Ulfa anak bungsunya yang masih berusia 2 tahun. Sisa-sisa kekutan terkahir dari ingatan seorang ibu hanyalah

“Mengkhawatirkan anak-anaknya”

Teringat ketika kecelakaan motor 3 tahun yang lalu. Akibat setang motor di senggol pengendara lain saya terguling di aspal. Pecahan kaca helm menyobek dahu dan lutut saya terluka terseret di aspal. Masih untung saat itu saya berada di belakang sebuah truk, jika berada di depannya mungkin saat itu saya sudah terlindas. Tidak ada rasa sakit yang saya rasakan, hanya rasa perih di dagu dan lutut. Saat itu saya bermaksud menjemput anak saya pulang sekolah. Dalam pikiran saya saat itu bahwa anak saya pasti menunggu. Setelah di tolong oleh seorang pengendara lain dan di bawa ke pinggir jalan, di beri betadin oleh seorang pemilik warung nasi di sana, saya pun langsung bergegas pergi.

“Bu minta ganti rugi bu” kata seseorang di kios helm, sementara si mas mas yang menyenggol berdiri dengan tampang khawatir di samping saya.

“Maaf ya bu..maaf” katanya

Jujur saat itu saya kok sama sekali tidak terpikir untuk minta ganti rugi atau menahan ktpnya ataupun marah-marah… di otak saya hanya ada pikiran bahwa anak saya sudah menunggu di sekolah.

Dengan plester seadanya di dagu, saya pergi melanjutkan perjalanan. Menjemput dan langsung ke puskesmas pusat yang kebetulan saat itu belum tutup. Saat saya berbaring baru saya sadar bahwa anak saya sedang menangis ketakutan. Melihat di dagu saya masih ada darah segar.
“Ibu jangan mati !”.. saya tersenyum sekaligus tersentak saat itu. Seandainya saya mati hari itu, entah bagaimana nasib anak-anak. Keesokan harinya anak saya deman, dan tidak masuk 2 hari.

Ketika beberapa tahun lalu, ada sebuah tausiah di tv dengan topic kematian, anak-anak saya bertanya dengan polosnya

“Ibu siap meninggal ?”

“Kenapa ngga. Tapi memang kalian siap di tinggal ibu”

Mereka menangis dan memeluk saya…

HUUUFFFF !!!! melihat ulfa yang tertidur dalam gendongan tantenya, Ibrahim yang masih berusia 4 tahun di gendong oleh teman saya, Burhan anak ke tiga, dan Mahmud anak pertamanya menatap dengan pandangan kosong pada jenazah ibunya ketika di kafani. Kami semua para ibu tak sanggup menahan air mata yang menitik
satu demi satu……

ya ALLAH ijinkan saya memiliki waktu untuk menyiapkan mereka menjadi manusia-manusia terbaik seperti yang ENGKAU harapkan

Masa depan bangsa bukan di tentukan oleh generasi muda…



Anak pertama saya susaaaaah banget bangun pagi. Setiap pagi bikin saya senewen, tapi setelah bangun cepat pula selesai bebenahnya. Yang kedua relative mudah di bangunkan, tapi relatiiiff lamaaa selesai nya, dan yang ketiga paling terakhir bangunnya tapi selesai nya pun tepat waktu.

Dari orang tua yang sama, dengan aturan dan ajaran yang sama, tetapi masing-masing punya sifat yang sangat berbeda. Setiap anak di lahirkan unik.

Apakah benar tanggung jawab bangsa ada di tangan mereka???

Saya ada sebuah cerita. Saya mempunyai seorang adik dari seorang kerabat dekat. Seingat saya ada foto masa kecilnya, dimana saya menggendongnya, kalau tidak salah ketika umurnya belum genap 1 tahun. Sejak bayi, anak ini, ketampanan wajahnya sudah sangat tampak. Saat remaja, bodynya yang tinggi dengan berat badan ideal dan deretan gigi yang sangat terawat membuat pesonanya makin tampak bersinar. Maka tak heran ketika remaja banyak fans nya. Perilakunya santun sekali, nilai-nilai akademis sekolahnya pun sangat baik. Siapa sangka, pribadinya yang tampak ter”tata” dengan baik ini, sanggup menjerumuskannya ke dunia narkoba.

Suatu hari dia datang membawa sebuah kado. Wajahnya masih seperti yang terakhir kali saya ingat. Dengan sangat diam, dia memberi saya sebuah kado yang tampak di bungks sedanya. Wajahnya terseyum, tapi diam dan sunyi.
“Apa ini “
Tidak ada jawaban hanya tersenyum dan diam
“Dia pernah bilang bahwa dia merasa dekat dan nyaman dengan endah “ kata bapaknya, begitu yang di katakan kakak saya perihal mimpi ini ketika saya bertanya kapan dia ulang tahun ? ketika saya berusaha mencari makna mimpi ini setelah hampir 5 tahun dia “istirahat”.
Adik saya ini telah meninggal dunia, karena terinfeksi HIV IDS, tertular dari penggunaan jarum suntik, dan meninggal setelah 10 tahun bertahan dalam dari masa inkubasi virus mengerikan ini. Ya, masa inkubasi virus ini sekitar 10 tahun.

Saya percaya doa yang tulus akan selalu ada jalan untuk di terima, meski ada pernyataan tegas hanya doa anak yang soleh pada orang tuanya sajalah yang di terima. Allah maha mengetahui dan maha bijaksana. Saya sangat percaya itu.

Terlahir dari oang tua yang sangat berpendidikan. Terdidik dengan tata krama yang baik dan fasilitas terbaik untuk anak selalu tersedia. Wajah yang tampan, dengan pergaulan yang luas membuatnya banyak jalan untuk memilih cara menghibur diri ketika gagal, kecewa dan galau.

Justru kesempurnaan pribadi yang di bebankan pada seorang anak adalah salah satu sebab seorang anak menutupi kegagalannya. Tidak ingin terlihat gagal, tidak ingin terlihat jatuh, membuatnya mencari hiburan sendiri. Terakhir test di akhir tahap penerimaan calon akabri baru terbuka kenyataan, bahwa adikku ini terlahir hanya mempunyai 1 ginjal. Kegagalan yang tidak bisa di ganti oleh sogokan apapun !!! Kegagalan yang seharusnya di terima dengan biasa saja, menurut pendapat ayahnya, karena itu sudah takdir. Tapi sebuah impian yang di bangun dengan semangat yang penuh sejak kecil tidak begitu saja bisa terhapus hanya dengan satu kata… takdir !!!

“ Biarlah anak ini istirahat, dia sudah terlalu lelah “ kata pas ustad pendampingnya. Sedih saat saya tidak bisa datang saat dia masih terbaring di rumah sakit dan tidak bisa melayat saat meninggal, karena kami tinggal di lain kota dan sibuk dengan 3 anak balita saya. Tapi setahun sebelum meninggal dia sempat menikah, dengan sesame ODHA (Orang Dengan Hiv AIDS). Teman yang di temuinya saat sama-sama berada di tempat rehabilitasi. Terakhir saya mendengar istrinya pun meninggal. Mereka harus “pergi” diusia yang sama-sama masih sangat muda.

Saya pernah bertanya pada seorang ibu yang 3 putra putranya berhasil masuk universitas negri favorite. Padahal beliau adalah seorang single parent yang suaminya telah lama meninggal.

“ Yang penting kalau belajar, anak itu tahu bahwa dia di temani. Meski kita nya ketiduran, di belakangnya. ”
Sesungguhnya anak-anak hanya butuh teman.

Anak-anak pecandu narkoba adalah anak-anak yang merasa dirinya itu “sendiri”. Justru mereka sebenarnya anak-anak yang mandiri. Mereka adalah anak-anak yang selalu merasa kuat dan berusaha tegar. Tapi tidak sadar bahwa mereka tidak bisa setegar yang mereka kira. Anak-anak yang kesepian meski dia berada di tengah keramaian. Kekurangan mereka hanya satu, IMAN.

Masa depan anak-anak ada di tangan orang tuanya. Anak-anak muda pencandu narkoba biasanya adalah anak-anak yang tertutup. Tidak dekat dengan keluarga. Batas antara orang tua dan anak ada dinding yang tegas.
Anak terlahir tanpa agama, tanpa keyakinan. Orang tualah yang membuatnya punya sebuah keyakinan. Sekolah pertama dari seorang anak adalah RUMAH. Orang tua adalah GURU pertamanya. Ketika anak sudah terjerumus dalam dunia hitam, prostitusi atau narkoba, tidak semudah itu untuk di rehabilitasi.

Saya punya seorang sahabat, seorang ibu, yang mempunyai masa lalu yang bersentuhan dengan dunia hitam ini. Darinya saya tahu dan mengerti, betapa berat bagi seorang pecandu untuk keluar dari lingkaran ini. Lebih berat dari seorang yang memulai bisnis atau orang yang sedang berusaha keras keluar dari kemiskinan, karena taruhannya adalah nyawa. Dia lahir di keluarga yang broken pula, yang merayap-rayap mencari jati diri melalui kerasnya hidup di dunia underground, seorang diri. Efek dari narkoba ini awalnya memang sangat membantu. Membuat mereka bersemangat, merasa hidup dan selalu ceria menyongsong hari. Tapi hanya sesaat. Semakin lama obat-obatan ini membuat mereka terpenjara. Ketagihan ! ketika di lawan, obat-obatan ini berusaha untuk selalu harus terjamah. Rasa sakit yang luar biasa akan di rasa oleh sekujur badan, yang membuat mereka tak kuasa melawan, ketika mereka berusaha untuk tidak mengkonsumsinya. Membuat mereka membutuhkannya lagi..dan lagi..hingga tak sadar jika over dosis. Seolah mengantar mereka mati secara perlahan dalam keadaan su ul khotimah.

“Saya berharap setelah tidur, tak pernah bangun lagi “ tuturnya mengingat saat dia terbaring OD di rumah sakit. Alhamdulillah Allah tidak membiarkan nya hancur. Mendengar kisahnya, bukan kemauannya untuk masuk ke lingkungan ini. ALLAH tidak buta. Kesempatan sebanarnya selalu ada bagi mereka, ketika orang-orang di sekelilingnya masih punya empaty, masih punya cinta dan kasih sayang.

Kita sebagai orang tua tidak bisa mendampingi mereka sesuai yang mereka butuhkan. Karena kesibukan
Kita atau karena keadaan kita yang terlalu lemah.

Menanamkan keyakinan TAUHID pada mereka sedini mungkin, sejak mereka BATITA bahkan sejak di dalam kandungan adalah solusi yang terbaik. Anak adalah benar-benar TITIPAN, bukan Cuma kata-kata bijak untuk mengingatkan orang tua, tapi renungkanlah. Menanamkan keyakinan pada mereka bahwa kita, ORANG TUA itu juga hanya TITIPAN bagi mereka. Bahwa suatu saat kita bisa kapan saja hilang, hilang karena di ambil lagi oleh sang empunya hidup atau karena hilang ingatan kita sebagai penanggung jawab mereka. Orang tua dan anak adalah sama-sama konsinyasi.

Mungkin sebagai orang tua yang merasa berpendidikan tinggi, merasa memiliki status sosial terhormat yang berlimpah rejeki membuat kita lalai pada apa sebenarnya yang dibutuhkan seorang anak. Orang tua yang telah di karunia ini hanya mempunyai kewajiban, mengenalkan mereka siapa TUHANnya, bagaimana menikmati nyamannya menjadi diri sendiri, dan betapa bergunanya selalu punya pikiran positif. Mengenalkan Tuhan pada mereka sama saja mengenalkan mereka pada semua kebaikan, kejujuran, keihklasan dan kejujuran. Ketika mereka lepas perhatian dari kita, ada TUHAN yang akan selalu menuntun hatinya.

ALLAH hanya meminta BEBERAPA TAHUN SAJA dari awal kehidupan seorang anak, pada orang tua untuk menjadi mentor bagi mereka. Ketika mereka dewasa /Baligh, itu urusan ALLAH. ALLAH akan menjaga dan memberi mereka hidayah. Orang tua yang membuat mereka bisa atau tidak membaca Hidayah-hidayah itu. Tak ada manusia pilihan, yang ada hanyalah manusia-manusia terpilih, yang sanggup memilih sendiri, jalan mana yang terbaik buatnya.

Kasus Rafi Ahmad, Nike Ardila, Alda… Bukan urusan saya untuk ikut berkomentar, menghakimi, menghujat ataupun sekedar membahas dan bergosip tentang kasus-kasus itu. Mengapa narkoba ini seperti lingkaran setan? Karena ketika seorang sudah terjerumus dalam narkoba, dia pasti akan berusaha menjadi pengedar atau bahkan Bandar…karena ketergantungannya ini akan membuatnya kanker = kantong kering. Obat yang selalu “menagih” ini membuat kaya para penjualnya. Membuat para konsumennya rela melakukan apa saja demi mendapatkannya.

Mereka yang terlanjur memakai adalah orang-orang dalam dilemma. Ketika mereka bebas dari keterikatan, sindikat tidak akan begitu saja melepas… karena dari satu satu orang pengguna, dia mendapat keuntungan yang luar biasa. Menurut sumber yang bisa di percaya, mantan para pengguna ini harus selalu di dampingi, karena mereka akan selalu di kejar oleh para pemasoknya.

Yang saya heran, kenapa begitu banyak Bandar-bandar besar yang tertangkap, begitu banyak pabrik-pabrik besar terbongkar..tetapi tidak pernah ada kabar berkurangnya aktifitas setan ini.

Yayaya, satu-satunya jalan adalah..kenalkan anak-anak kita pada TUHAN sedini mungkin. Berikanmereka pengertian, untuk bijaksana menilai tidak ada manusia yang bisa di jadikan idola dan juga tidak harus menjadi idola karena tidak ada sosok yang sempurna, untuk bijaksana bahwa cita-cita tinggi itu memang bagus, tapi tidak harus selalu tercapai. ALLAH maha tahu segala yang terbaik buat kita al-baqarah 216. Di tangan Orang tua lah masa depan bangsa di tentukan. Orang tua tidak harus menjadi pendidik anak-anak kandung, orang tua adalah pendidik bagi semua anak.
PABRIK NARKOBA TIDAK ADA ARTINYA JIKA TIDAK ADA YANG MEMBELI, menanti semua itu hilang adalah membuat dagangannya tidak laku !!!